Biografi Pidi Baiq: Seniman Nyeleneh, Humoris dan Romantis

Biografi Pidi Baiq: Seniman Nyeleneh, Humoris dan Romantis

Siapa kini yang tidak mengenal sosok seorang Pidi Baiq sosok yang namanya melejit karena karyanya yang diangkat dalam sebuah film. Film tersebut menceritakan dari novel yang dibuat oleh seorang Pidi Baiq dan tokoh utama tersebut bernama dilan yang hingga kini di sukai oleh berbagai golongan baik yang tua maupun muda menyukai semua film tersebut.

Jiwa nylenehnya memang sudah terlihat sejak kecikl. Ia suuka menggambar dan membaca, namun tidak serta merta membuatnya bercita-cita menjadi seorang penulis, pelukis, ataupun seniman. Sejak kecil justru cita-citanya adalah menikah. Sebab Pidi bosan mendengar jawaban profesi sebagai cita-cita teman sebayanya.

Pidi Baiq lahir di Bandung pada tanggal 8 Agustus 1972 yang terus berkembang menjadi seniman dengan berbagai talenta mulai dari penulis novel, buku, ilustrator, dosen, komikus hingga musisi dan seorang pencipta lagu. Awalnya, Pidi Baiq adalah salah satu anggota grup band The Panas Dalam yang berdiri pada tahun 1995.

Pidi Baiq adalah lulusan dari Institut Teknologi Bandung jurusan FSRD untuk mendalami dunia seni yang mendarah daging dalam dirinya. Setelah kelulusannya dari ITB, Pidi mulai berkelana hingga ke Amsterdam untuk belajar filsafat dan seni di sana.

Selama menuntut ilmu di ITB, sifat memberontak dan ingin kebebasan dari dalam diri Pidi semakin menggelora. Resah dengan rezim Orde Baru yang dipimpin Soeharto, ia lebih baik memilih negara sendiri, yang dinamainya Negara Kesatua Republik The Panasdalam. Tempatnya di ruang seni rupa seluas 80 meter persegi pada tahun 1995.

Maka selain berjiwa seni, Pidi Baiq memang bukan orang yang sembarangan meskipun memang dalam tampilan dan cara bicaranya terkadang terdengar nyeleneh. Bahkan Pidi Baiq juga pernah menjabat sebagai dekan di salah satu jurusan di ITB dan setelah melepaskan jabatannya Pidi kembali menjadi seniman yang memang sudah menjadi dunianya. Hal ini sempat diceritakan Pidi Baiq dalam salah satu serial Drunken yang ditulisnya.

Selain karya menarik berupa tulisan novel dan buku, Pidi Baiq juga membuat berbagai lagu dengan syair yang unik untuk bandnya The Panas Dalam. The Panasdalam sendiri merupakan akronim dari aTHeis, Paganisme, NaSrani, HinDu BuddA, isLAM, yang maksudnya negara bentukan Pidi Baiq ini menerima semua orang yang menganut berbagai keyakinan.

Sensasi berbeda memang dimunculkan ole Pidi Baiq dalam setiap karyanya sehingga membedakannya dengan seniman lainnya. Inilah yang menyebabkan karyanya cepat dikenal dan melejit di pasaran dengan banyak penggemar setiap cerita yang dibuatnya.

Sifat nyeleneh baik saat menulis maupun berbicara, memang sudah menjadi ciri khas dari Pidi Baiq yang tidak bisa diubah. Namun hal tersebut memang menjadi daya tariknya yang membuat banyak orang menyukai setiap hal yang dibuatnya.

Setelahnya, ia memutuskan untuk bertualang ke Belanda untuk mempelajari filsafat dan seni di tahun 2000. Cerita ketika ia di negeri Kincir Angin dituangkannya ke dalam kisah Manuskrip Amsterdam salah satunya.

Kembali ke Indonesia, ia sempat tidak ada pekerjaan. Ia membuat beberapa lagu dengan beragam tema. Ada lagu bertema soal kehidupan waria yang dituangkannya pada lagu “Cita-citaku”, ada pula soal makhluk halus yang diberi judul “Rintihan Kuntilanak”. The Panasdalam berubah menjadi grup musik bernama The Panasdalam Bank.

Dalam dunia kepenulisan, mantan Dekan di ITB ini mulai menulis di tahun 2003 ketika seorang teman membuatkan laman blog untuknya. Tanpa konsep, ia menuliskan apa saja yang ada di kepalanya untuk mengisi blog tersebut.

Serial Drunken mulai dirilis di tahun 2008-2009. Ada Drunken Monster, Drunken Molen, Drunken Mama, dan Drunken Marmut. Di buku Drunken Monster inilah ia menuliskan cerita bahwa banyak tetangganya yang tidak percaya jika ia pernah menjadi dosen dan dekan di ITB.

Dari sini namanya mulai naik daun sebagai penulis. Bukunya cukup laris di pasaran hingga beberapa kali dicetak ulang. Temannya pun membuatkannya akun Twitter untuk berkomunikasi dengan para pembaca bukunya. Disini ia cukup aktif merespon pertanyaan dan memfollback (follow back) pengikutnya.

Karya:
Beberapa karya Pidi Baiq yang bisa banyak dinikmati para penggemarnya adalah sebagai berikut :

-Bandung, Pahlawan Pembela Kebetulan: Kasus Tikus Tarka (1997)
-Drunken Monster: Kumpulan Kisah Tidak Teladan (2008)
-Drunken Molen: Kumpulnya Kisah Tidak Teladan (2008)
-Drunken Mama: Keluarga Besar Kisah-kisah Non Teladan (2009)
-Drunken Marmut: Ikatan Perkumpulan Cerita Teladan (2009)
-Al-Asbun Manfaatulngawur (2010)
-Hanya Salju dan Pisau Batu (2010)
-At-Twitter: Google Menjawab Semuanya Pidi Baiq Menjawab Semaunya (2012)
-S.P.B.U: Dongen Sebelum Bangun (2012)
-Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1990 (2014)
-Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1991 (2015)
-Milea: Suara dari Dilan (2016)
-Asbunayah: Kumpulan Quote 1972 – 2098
-Baracas: Barisan Anti Cinta Asmara (2017)

Referensi:
https://tibuku.com/biografi-pidi-baiq/
https://kenangan.com/biografi/pidi-baiq